Keterangan Gambar : Oknum Tenaga Medis/Tenaga Kesehatan Klinik Djohan, Heni Butar Butar.
TEBING TINGGI, IJN –
Pelayanan Kesehatan yang diberikan Tenaga Medis atau Tenaga kesehatan (Nakes) di Klinik Djohan yang beralamat di Jalan Kapten F Tandean Kota Tebing Tinggi , Sumatera Utara, dinilai kurang baik dan diduga tidak sesuai standar operasional prosedur (SOP).
Kurang baiknya pelayanan kesehatan di Klinik Djohan tersebut disampaikan oleh pasangan suami istri, Irlan Jaya Situmorang SH dan Kurnia Ningsih Saragih, Warga Desa Marjanji , Kecamatan Sipispis, Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai).
Mereka merasa kecewa saat membawa anak perempuan mereka yang berusia 6 tahun mengalami sakit demam tinggi dan berobat di Klinik Djohan Tebing Tinggi pada Senin 10 Agustus 2026 sekitar Pukul 17.30 WIB, tetapi tidak mendapatkan pelayanan medis yang baik.
Kejadian bermula saat seorang perempuan oknum tenaga kesehatan (Nakes) atau Pegawai Klinik Djohan yang disebut bernama Heni Butar Butar, yang meletakkan alat kesehatan termometer (alat pengukur suhu tubuh) diatas meja dokter sambil menyuruh orang tua anak tersebut (ibunya yang bernama Kurnia Ningsih Saragih) untuk memeriksa suhu tubuh anaknya sendiri yang sedang sakit demam tinggi.
Melihat pelayanan yang tidak biasa tersebut, Irlan Jaya Situmorang SH sebagai orang tua kandung (ayah) dari anak tersebut, mengkritik kinerja dan pelayanan oknum pegawai tenaga kesehatan klinik djohan yang diketahui bernama Heni Butar Butar tersebut.
“Kenapa kami yang memeriksa anak kami sendiri yang sedang sakit, kami datang kemari mau berobat, kami serahkan dan kami percayakan semua penanganannya kepada tenaga medis atau tenaga kesehatan tempat kami berobat, karena kami sebagai masyarakat gak tau menau soal medis, makanya kami datang kesini mau berobatkan anak kami, kalau kami tau dan bisa meriksa sendiri, ngapain kami datang kemari bawa anak kami berobat, dirumah ajalah kami,” jelas Irlan Jaya Situmorang SH mengkritik kinerja dan pelayanan di Klinik Djohan tersebut.
Irlan selaku orang tua pasien anak dan sebagai pasien yang sering berobat di Klinik Djohan tersebut berharap, agar masyarakat atau pasien yang datang untuk berobat, bisa mendapatkan pelayanan yang baik sebagaimana mestinya sesuai prosedur yang berlaku.
“Selain obat yang diberikan, komunikasi dan pelayanan yang baik dari tenaga medis, juga dapat menjadi faktor pendukung peyembuhan bagi pasien,” tegas Irlan Jaya Situmorang SH.
Saat Irlan mempertanyakan apakah pelayanan yang dilakukan oknum tenaga kesehatan tersebut sudah sesuai prosedur atau SOP, tapi oknum pegawai tersebut malah pergi mengambil handphone dari ruang depan tempat pendaftaran pasien dan masuk lagi kebelakang keruangan pemeriksaan dokter sambil merekam pasien yang sedang menyampaikan kritik dan saran terhadap pelayanan.
“Saya tenaga medis butuh tanda bukti, inilah merekam ini,” katanya sambil merekam pasien yang menyampaikan kritik terkait pelayanan.
Sambil berdiri bersandar dan menggoyang-goyangkan kaki sebelah kanannya, oknum pegawai klinik djohan ini mengatakan bahwa pasien yang datang berobat jangan cari-cari alasan.
“Jangan cari alasan, gak ada disini cari-cari alasan,” katanya lagi.
Oknum pegawai tenaga medis atau tenaga kesehatan Klinik Djohan yang bernama Heni Butar Butar ini juga melarang pasien yang ingin menyampaikan koreksi ataupun kritik atas pelayanan yang diberikan oleh tenaga kesehatan.
“Jngan tenaga medis saja yang dikritik ya pak, kami pun wajib mengkritik, jangan hanya kami yang dikritik,” kata oknum Nakes ini lagi.
Adanya perdebatan antara orang tua pasien dengan oknum Pegawai Klinik Djohan tersebut sempat diperingatkan oleh dokter Iwan yang saat itu berada diruangan memberikan pelayanan kesehatan.
Dengan adanya perdebatan pada saat itu, dokter Iwan juga sudah memperingatkan kepada oknum pegawainya bahwa sebagai tenaga medis atau tenaga kesehatan, mereka wajib memberikan pelayanan yang baik kepada pasien.
“Kita disini memberikan pelayanan, jangan seperti itu, kalau apa minta maaflah, biar saling maaf memaafkan,” ucap dokter Iwan kepada oknum pegawai perempuan yang bernama Heni Butar Butar tersebut, sambil meminta agar oknum tersebut keluar dari ruangan itu, tapi oknum pegawai tersebut tidak menghiraukan apa yang disarankan oleh dokter Iwan.
Sampai akhirnya, dokter Iwan meminta agar pelayanan digantikan oleh tenaga kesehatan lainnya.
Pasien anak yang mengalami demam tinggi yang seharusnya tenang mendapatkan penanganan medis menjadi terganggu, merasa takut dan terkejut melihat adanya perdebatan.
“Anak-anak kami dan kami sudah lama menjadi pasien di Klinik Djohan, dengan pelayanan yang seperti itu, kayaknya kami takut dan gak mau lagi untuk berobat kembali di Klinik Djohan Tebing Tinggi,” ucap Kurnia Ningsih Saragih dan Irlan Jaya Situmorang SH, Sabtu 15 Agustus 2026.
Menindaklanjuti terkait pelayanan yang kurang baik dari oknum Nakes bernama Heni Butar Butar tersebut, Irlan Jaya Situmorang SH lansung menyampaikan kejadian tersebut melalui WhatsApp kepada dokter Junica Handayani selaku penanggungjawab Klinik Djohan.
Atas adanya kejadian itu, via telepon WhatsApp dokter Junica Handayani sebagai penanggungjawab menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan pasien terhadap pelayanan yang diberikan. (Red/Tim)

